Aku akan menulis atau menyebarkan tulisan-tulisan yang pernah kubaca dan kuanggap sarat idealisme atau integritas.
Aku gelisah, karena dua hal tadi yakni idealisme dan integritas kian hari seakan menjadi barang langka di republik ini, aku tidak ingin hal itu hilang terutama untuk orang muda.

Pada proporsi tertentu, secara pribadi aku juga kecewa kepada orang muda khususnya, kepada mereka yang menjadikan dunia maya seakan menjadi wadah berhahaha dan hihihi semata tanpa mau berusaha menggunakan pikirannya lebih jauh; bahkan sangat banyak yang menjadikan wadah seperti tumblr, facebook, twitter atau blog sebagai pelarian semu sekadar; ada juga menjadi wadah cengeng, mencari sensasi pada lawan jenis, galau dan sejenisnya; suatu kondisi yang bagiku benar-benar mengenaskan menurutku! Memang itu bukan hakku tetapi secara lugas aku katakan bahwa kondisi itu sangat aku sayangkan dan aku berhak mengatakan kekecewaanku atas itu secara terbuka.

Oleh karenanya aku akan memberikan pencerdasan, mengkritik dengan cerdas, sudutpandang kreatif, aku akan memberikan argumentasi kritis, bila perlu aku akan mengusik kenyamanan dari berbagai substansi, dan tentu juga aku akan berbuat dan menularkan inspirasi selagi aku bernafas dan darahku mengalir.

Siapa aku, bukanlah suatu yang penting untuk aku paparkan di sini, cukup baca tulisan-tulisan yang kusertakan maka dari situ kamu akan mengenal atau setidaknya kamu mungkin akan meraba-raba siapa atau bagaimana pribadiku.

Jika perlu kritik aku dengan lebih cerdas dan kamu akan kuanggap sahabat. Aku sangat terbuka dan independen karena bagiku dua hal itu merupakan langkah awal untuk menjadi pribadi yang merdeka. Sebelum lebih jauh, perlu kutegaskan, aku menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran, cinta kasih, keadilan serta kemanusiaan universal.

Semoga goresan-goresan di wadah ini dapat bermanfaat bagimu pribadi dan orang lain. Akhir kata, kuucapkan terima kasih atas kunjunganmu. Salam hangat dan salam merdeka!
February 17th
3:55 PM

Perihal Anggie yang mengatakan tidak tahu-menahu tentang BBM

Gambar: Anggie tertangkap kamera saat menggunakan BB pada tahun 2009

Dari sidang “TIPIKOR” :

Hakim: “Apa benar Anda tidak pernah BBM-an dengan Rosa?”

Anggie: “Nggak”

Hakim: “Telpon?”

Anggie: “Nggggaaaaakkk”

Hakim: “Kenapa bisa begitu?”

Anggie: “Aku Gak Punya Pullssaaaaaa!” :)


Salam berpikir kritis dan menggunakan akal sehat ditengah carut-marut zaman dan kian banyaknya kepalsuan serta orang yang menghamba pada materi :)

3:29 PM
AFIKA

AFIKA

February 15th
10:18 AM
Pramoedya…..Saat itu saya sedang nonton TVRI, berita malam jam 7. Dan saya lihat seorang Jaksa Agung mengacung-acungkan buku “Gadis Pantai” diucapkan “Berbau-bau PKI” dan seperti kebanyakan orang yang hidup di masa Orde Baru PKI adalah “Hantu yang tak terdefinisi, menakutkan tapi tak jelas rupanya”.Rupa buku Gadis Pantai itu kurang menarik, seingat saya hanya gambar sketsa seorang gadis yang matanya menatap lautan luas, tapi di mata saya waktu kecil itu ada ‘Perasaan gagah’ kalau punya buku seperti itu. Sejak itu ada dua hal yang mengandung keberanian di mata saya “Pramoedya dan PKI”. Yang paling saya suka dalam setiap hal adalah ‘orang-orang yang tersingkirkan, mereka yang kalah atau tim sepakbola yang underdog lalu mencuat menjadi pemenang’ saya senang dengan mereka yang berani melawan dari ketersingkiran. PKI dimata saya saat itu bukanlah representatif dari sebuah ideologi yang tak saya mengerti, tapi satu hal ekspresi di ruang pikiran saya PKI adalah keberanian, PKI adalah pemberontakan, PKI adalah koreksi terhadap hal-hal mapan dan dari semua itu ‘PKI adalah ketersingkiran’.Pram, adalah keberanian yang lain. Dan memang di kemudian waktu saya tau bahwa Pram bukanlah PKI, dia Sukarnois, dia orang yang amat paham sejarah, bahkan bisa dikatakan Pram adalah sumber dari segala sumber kesadaran sejarah bangsa ini, ia adalah pengingat bahwa masa lampau memiliki pesan, ia Mpu Tantular pada jaman ketika roket sudah diciptakan. Lebih jauh lagi, hidup Pram adalah sebuah epos besar kemanusiaan, dimana seorang yang sudah tertindas disituasi yang membunuhnya ia bisa bangkit dan menjadi raksasa atas kegelisahan bangsanya, ia tumbuh dari depa demi depa keberanian. Pram adalah esensi keberanian itu sendiri.Seperti kata Salman Rushdie di dalam novelnya Midnight Children, “Seorang anak adalah gambaran dari sebuah bangsa yang tumbuh, dan sebuah bangsa adalah cerita di kepala kanak-kanak” Pram adalah keterwakilan dari luka sejarah masa lampau bangsa Jawa, juga keterwakilan dari keinginan sebuah bangsa yang ingin tumbuh dan muncul di dunia, sebuah KeIndonesiaan, yang dibangun dengan seribu kegagapan, luka, kesepian, air mata, darah dan kegilaan-kegilaannya. Pram lahir dari keluarga semi bangsawan di sebuah wilayah yang ‘kalah’, sebuah wilayah yang disingkirkan dan diingat dengan sejarah dendam yang sinis, ‘Blora’. Wilayah Blora adalah wilayah inti Jipang Panolan, tempat berkuasanya Pangeran Ario Penangsang, yang sepanjang sejarahnya adalah penuntut tahta Demak, dan mendendam pada Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijoyo, kematian Aryo Penangsang adalah titik nol kilometer dari dibangunnya Kerajaan Mataram, sebuah kerajaan yang sampai sekarang peradabannya sangat berpengaruh pada ruang keIndonesiaan kita. Pendirian Mataram disertai dengan ketersingkiran dan hinaan wilayah Jipang, orang-orang Jipang dianggap sebagai keturunan Pembangkang. Cerita tentang Blora adalah sejarah penceritaan sinisme Mataraman.Pram, anak seorang guru. Bapaknya Mastoer guru sekaligus pemimpi. Ia bermimpi tentang sebuah bangsa yang merdeka, ia bermimpi tentang kanak-kanak yang memiliki bangsanya sendiri, Mastoer dipengaruhi pikiran-pikiran Indonesia Baru, ia pengikut Sukarno yang gigih, ia berani bertindak membentuk sejarah dengan melawan kemapanannya, ia keluar dari guru pemerintahan dan mendirikan sekolah Partikelir (swasta), sekolah dimana ia bisa menanamkan semangat kebangsaan, semangat memiliki dimana anak-anak ini dipersiapkan untuk “sebuah bangsa yang akan lahir”.Ibunya Pram, walaupun tidak berpendidikan tinggi ia seorang pembaca yang tangguh, ia banyak referensi tentang bacaan-bacaan jawa seperti kidung dan kisah-kisah wayang , ia juga seorang keturunan bangsawan yang merekam banyak kesakitan-kesakitan atas masa lalu. ‘Kisah Nenek dari Ibunya inilah yang kemudian melahirkan cerita ‘Gadis Pantai’. Pram amat dekat dengan ibunya, tapi ia berjarak dengan ayahnya. Ia memberontak pada kekuasaan ayahnya, membenci sekaligus mengagumi. Sepertinya cerita hidup Mastoer adalah gambaran kehidupan Pram di masa datang, kehidupan yang getir. Ayah Pram, adalah seorang yang kalah, sekolahnya ditutup paksa pemerintahan Belanda, lalu ia stress dan menjadi penjudi tangguh, penjudi yang bisa dua hari tak bangun dari tempat duduknya, membanting-banting kartu, pikirannya adalah kebuntuan-kebuntuan, Pram menceritakan ini dibukunya “Bukan Pasar Malam”.Ayah Pram keras dengan Pram, dan ini ia selalu kenang dengan pahit, tapi Pram dilimpahi kasih sayang ibunya, ia belajar menjahit, memasak dan pekerjaan-pekerjaan perempuan lainnya. Ia menjadi amat halus, ia memomong adik-adiknya. Yang paling diingat salah seorang adiknya Koesalah tentang kakaknya ini adalah ketika ia dibawa Pram ke tengah kota Blora dan melihat tentara Jepang masuk kota berbaris-baris, masih ingat bau khas tentara Jepang yang sangit, dan Koesalah mengingatnya ia diajak oleh Pram melihat penduduk merampas toko-toko milik orang Cina ditengah situasi kota yang kalut, saat itu Pram melengos dan tidak menyukai ‘rupanya perampasan akan menjadi sejarah paling pedih dari dirinya’. “Seluruh hidupku adalah sejarah Perampasan” ucap Pram suatu ketika setelah lepas dari Pulau Buru tahun 1978.Pram, tak akur dengan ayahnya, ia nekat pergi ke Jakarta dan menumpang di rumah pamannya. Saat itu Jepang berkuasa, ia belajar steno. Pram amat pintar dan selalu tertinggi nilainya pada kursus-kursus penulisan. Tapi kemudian yang diangkat jadi kepala kantor wartawan adalah seorang yang dibawah nilainya, karena persoalan sederhana, Pram hanya lulusan SMP sementara orang itu lulusan SMA. Sejak saat itu Pram memandang sinis entitas pendidikan, baginya intelektualitas bukanlah sekolahan tapi intelektualitas adalah belajar terus menerus.Pram hadir saat anak-anak didik Tan Malaka menyelenggarakan rapat Ikada untuk mengetest kemampuan Sukarno di depan rakyatnya. Pram berdiri di tengah massa rakyat, hatinya bergetar, ia bernyanyi, mimpinya tentang Indonesia Raya, ia tulis kenangannya ini di dalam surat-surat kepada anaknya yang kemudian dirangkum dalam sebuah buku tentang kamp kerja paksa ‘Pulau Buru’ yang berjudul “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu”. Pram menulis pada anaknya “Et, Kalau orang tidak pernah atau tidak mau ceritai kau tentang Revolusi Indonesia, biar aku yang mendongeng untukmu. Siapa tahu cerita itu bisa jadi imbangan bagi kondisi kesehatanmu yang kurang menguntungkan. Siapa tahu, ya siapa tahu! Tak sekurang-kurangnya orang yang mendapat kekuatan dari sebuah cerita.” Pram menceritakan tentang Indonesia di masa lalu, sebagai kekuatan pencerita.Dari cerita-ceritanya Pram tumbuh menjadi saksi sebuah bangsa yang baru ada, sebuah bangsa yang bangkit dari lapangan kehinaan, Pram mencatat dengan teliti semua kejadian, di masa perang Revolusi 1945-1949 ia bertugas sebagai seorang ‘Letnan’ yang membawa berita, ia menuliskan semua keadaan dan Pram bekerja amat baik, ia seorang penyimpan arsip yang amat ulung, tanpa sengaja ia menjadikan dirinya sebagai ‘ensiklopedi berjalan Revolusi Indonesia’. Dari semua catatan-catatan ini Pram berpikir bagaimana keIndonesiaan dibentuk.Kisah hidup Pram adalah kisah hidup yang unik, dia seorang orang yang menyenangkan sekaligus menyebalkan bagi sebagian orang. Ia pemarah tapi ia juga sangat baik hati di satu sisi. Ia manusiawi dari segala dimensinya. Dunia Pram total masuk ke dalam alam imajinasi, ia selalu limbung dengan dunia realitas yang tidak disenanginya. Ia melawan dengan keras apapun yang menjadi keyakinannya.Pikirannya tentang masyarakat baru terlihat setelah ia pulang dari Cina, di Cina ia langsung terjun ke masyarakat, ia ikut menempa baja di rumah-rumah rakyat, ia melihat bahwa modal adalah sarang diatas sarang penindasan manusia. Indonesia harus dibebaskan dari keseluruhan ikatan-ikatan. Pertama-tama ia menyerang agenda imperialisme, di dalam Pram melawan basis-basis feodalisme, Pram mencerca karangan yang tak paham apa yang terjadi di masyarakat, ia menyalakan api aksara bahwa sastra harus langsung menjelaskan persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat dan berimajinasi atas jalan keluar persoalan-persoalan tersebut. Pram mengobarkan semangat realisme dalam dunia sastra Indonesia.Dengan HB Jassin ia berkawan akrab, bahkan salah satu surat menyuratnya adalah tentang kemungkinan berdagang timah. Dengan Nugroho Notosusanto ia juga akrab, Nugroho hadir dalam pernikahan Pram dengan Muthmainah Thamrin, anak angkat Pahlawan Nasional Muhammad Husni Thamrin di tahun 1950-an. Tapi jaman yang berderak membawa Pram pada situasi yang panas : Lekra, Manikebu, tuduhan Pram membawa Pistol dan mengancam sastrawan ‘kanan’ serta opini-opini lain yang keras bagian dari situasi negara yang hamil tua. Pram, berdiri dari badai kekerasan masa lalu dan terperangkap dalam kekerasan yang diciptakan negara.Rumahnya dirampas tentara, perpustakaannya diobrak-abrik, banyak data-data penting hilang. Gerakan Untung 1965 adalah gerakan yang melahirkan hal-hal aneh, dan kemudian orang ditangkapi berdasarkan tuduhan kosong belaka. Termasuk Pram, “Saya ditangkap karena saya tak tau apa-apa” kata Pram menerawang kenangannya tentang masa paling gelap hidupnya. Ia dibawa tentara dengan dalih ‘mengamankan’ dia dibawa ke Penjara sebagai ‘tahanan kota’ ia dipukuli berkali-kali, telinganya dipopor sampai separuh tuli. Pram selalu berteriak bila berbicara karena telinganya agak kurang mendengar, secara kemanusiaan ia disakiti.Di dalam penjara ia disuruh berbaris, ia melihat adik-adiknya juga ditangkap. Enam tahun ia dipenjara kota, tahun 1972 ia diberangkatkan ke Pulau Buru, sebuah kamp kerja paksa paling mengerikan yang pernah diadakan Orde Baru.Pulau Buru adalah puncak dari anomali sejarah Indonesia, negeri ini berdiri untuk mendapatkan kebebasan dan kemanusiaannya tapi Pulau Buru malah menjadi Rumah Besar pembantaian kemanusiaan, ribuan intelektual Indonesia ditahan di Pulau ini, dihinakan kemanusiaannya, dibuat seperti tak manusia.Pram mendapatkan sedikit keistimewaan di Pulau ini, teman-temannya menggantikan tempat ia bekerja, ia berkesempatan menulis dan terus menulis. Jika sekarang banyak pengarang-pengarang cengeng dan sedikit-sedikit menangis soal nasib karangannya, hendaknya melihat kegigihan Pram di Pulau Buru. Disini ketangguhan penulis sejati dibentuk, Pram menulis dengan kertas semen dan pensil, ia harus kucing-kucingan dengan tentara yang menjaga, kalau ketahuan tulisannya bisa dirobek, ia mengingat sendiri semua data-data untuk karangannya. Ia menyusun sebuah cerita panjang, cerita tentang terbentuknya masyarakat Indonesia lewat gambaran jalinan kisah : Minke, Nyai Ontosoroh, dan Anneliese yang kemudian melahirkan banyak kisah.Suatu hari Jenderal Sumitro selaku Pangkopkamtib datang ke Pulau Buru. Disana ia khusus bertemu dengan Pram, di tepi pantai Sumitro berkata pada Pram : Pak Pram, Hal yang paling indah dalam hidup adalah harapan, manusia boleh kehilangan segalanya, tapi jangan harapan, karena yang paling berharga dari diri manusia adalah harapannya” Pram diam saja.“Pak Pram mau apa” kata Jenderal Mitro. “Saya mau mesin ketik” Lalu Sumitro mengangguk dan meminta anak buahnya mengirim mesin ketik serta ber rim-rim kertas. – kelak Kiriman ini tak pernah sampai.Tapi saat kunjungan Sumitro ada wartawan Kompas yang pemberani, bernama Sindhunata diam-diam menyelundupkan kertas-kertas tulisan Pram ke Djakarta, dari sinilah epos tentang Pram dimulai.Pram menyaksikan kekerasan terus menerus di Pulau Buru, ia melihat temannya ditendangi, disuruh tiarap, disuruh kumpul pagi-pagi, digebuki karena kesalahan sepele, bahkan dibunuh, ia menulis ini pada bukunya “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” sebuah soliloquy atas kesaksian anak manusia tentang kekejaman bangsanya. Dari kisah nyanyi sunyi seorang bisu membangkitkan perlawanan anak muda melawan Orde Baru, sebuah Orde yang pendiriannya berlawanan dengan hakikat Proklamasi 1945 : Sebuah teriakan Pembebasan dilawan dengan sepatu lars Penindasan.Pram menantang jamannya yang keras. Presiden Suharto menulis surat pada Pram agar bersabar dalam masa tahanannya di Pulau Buru, Pram menjawab dengan singkat dan bahasa yang amat halus : “Saya diajarkan oleh orang tua saya untuk bersikap jujur”.Tahun 1978 ia dipulangkan ke Djakarta bersama ratusan tawanan Pulau Buru lainnya. Ia menerima kenyataan rumahnya dirampas, ia hidup dalam kemiskinan dan ia tetap terus bertahan sebagai kepala rumah tangga dan bertanggung jawab pada kehidupan keluarganya.Sekitar tahun 1981, bukunya diterbitkan tapi langsung dibredel, lalu penerbitnya putar otak akan untuk menerbitkan di hari jum’at sore, sehingga Pemerintah libur sabtu-minggu, dan ada waktu biasanya sampai selasa. Selama beberapa hari buku-buku Pram habis 5.000 eksemplar.Wakil Presiden Adam Malik sendiri di depan Pram bilang “Wah, kalau Suharto saja sudah melarang, jangan kamu Pram, saya sendiri bisa ditembaknya”. Pram menatap Adam Malik getir, dalam hati ia berkata “Saya harus bertahan terhadap jaman yang tak benar ini”. Ia berjalan tanpa uang di tengah deru debu kota Jakarta, dalam usia tua-nya ia terus menerus bergelut melawan kerasnya hidup, tekanan dan tuduhan. Tapi ia tetap produktif, ia terus menulis : ‘baginya menulis adalah persoalan menyambung nyawa’.Dan benar Pram bertahan terus menerus, tidak hanya pemerintah bahkan oleh pengarang-pengarang Manikebu yang di masa Sukarno merasa dikasari oleh Pram. Tapi Pram berkata dengan ringan “Dalam perdebatan-perdebatan sastra disaat itu, mereka tidak lecet sedikitpun, dan mereka bertanggung jawab terhadap pendirian Orde Baru yang militeristis lalu mereka menikmati di jaman itu”.Di akhir hidupnya, Pram mendapatkan puncak Popularitas sebagai Pengarang terbesar di Indonesia pada jamannya. Ia adalah pengarang paling berbakat dan paling memiliki karakter penulisan yang amat dihapal oleh banyak orang Indonesia. Ia mampu membangun rumah tiga tingkat di Depok dan di depan Joko Pekik dia berkata “Rumah ini adalah bukti saya bisa melawan Orde Baru dengan kemenangan saya, saya berhasil menjadi manusia ketika saya dibunuh berkali-kali”.Dan Pram mengajarkan pada kita “Bahwa ketersingkiran dalam hidup harus dilawan dan dimenangkan”~Selamat Ulang Tahun Pram, Selamat Ulang Tahun Penulis yang menjadi obor besar atas kesadaran sejarah ‘Untuk Apa Negeri ini Harus Berdiri’.~ADHN

Pramoedya…..

Saat itu saya sedang nonton TVRI, berita malam jam 7. Dan saya lihat seorang Jaksa Agung mengacung-acungkan buku “Gadis Pantai” diucapkan “Berbau-bau PKI” dan seperti kebanyakan orang yang hidup di masa Orde Baru PKI adalah “Hantu yang tak terdefinisi, menakutkan tapi tak jelas rupanya”.

Rupa buku Gadis Pantai itu kurang menarik, seingat saya hanya gambar sketsa seorang gadis yang matanya menatap lautan luas, tapi di mata saya waktu kecil itu ada ‘Perasaan gagah’ kalau punya buku seperti itu. Sejak itu ada dua hal yang mengandung keberanian di mata saya “Pramoedya dan PKI”. Yang paling saya suka dalam setiap hal adalah ‘orang-orang yang tersingkirkan, mereka yang kalah atau tim sepakbola yang underdog lalu mencuat menjadi pemenang’ saya senang dengan mereka yang berani melawan dari ketersingkiran. PKI dimata saya saat itu bukanlah representatif dari sebuah ideologi yang tak saya mengerti, tapi satu hal ekspresi di ruang pikiran saya PKI adalah keberanian, PKI adalah pemberontakan, PKI adalah koreksi terhadap hal-hal mapan dan dari semua itu ‘PKI adalah ketersingkiran’.

Pram, adalah keberanian yang lain. Dan memang di kemudian waktu saya tau bahwa Pram bukanlah PKI, dia Sukarnois, dia orang yang amat paham sejarah, bahkan bisa dikatakan Pram adalah sumber dari segala sumber kesadaran sejarah bangsa ini, ia adalah pengingat bahwa masa lampau memiliki pesan, ia Mpu Tantular pada jaman ketika roket sudah diciptakan. Lebih jauh lagi, hidup Pram adalah sebuah epos besar kemanusiaan, dimana seorang yang sudah tertindas disituasi yang membunuhnya ia bisa bangkit dan menjadi raksasa atas kegelisahan bangsanya, ia tumbuh dari depa demi depa keberanian. Pram adalah esensi keberanian itu sendiri.

Seperti kata Salman Rushdie di dalam novelnya Midnight Children, “Seorang anak adalah gambaran dari sebuah bangsa yang tumbuh, dan sebuah bangsa adalah cerita di kepala kanak-kanak” Pram adalah keterwakilan dari luka sejarah masa lampau bangsa Jawa, juga keterwakilan dari keinginan sebuah bangsa yang ingin tumbuh dan muncul di dunia, sebuah KeIndonesiaan, yang dibangun dengan seribu kegagapan, luka, kesepian, air mata, darah dan kegilaan-kegilaannya. Pram lahir dari keluarga semi bangsawan di sebuah wilayah yang ‘kalah’, sebuah wilayah yang disingkirkan dan diingat dengan sejarah dendam yang sinis, ‘Blora’. Wilayah Blora adalah wilayah inti Jipang Panolan, tempat berkuasanya Pangeran Ario Penangsang, yang sepanjang sejarahnya adalah penuntut tahta Demak, dan mendendam pada Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijoyo, kematian Aryo Penangsang adalah titik nol kilometer dari dibangunnya Kerajaan Mataram, sebuah kerajaan yang sampai sekarang peradabannya sangat berpengaruh pada ruang keIndonesiaan kita. Pendirian Mataram disertai dengan ketersingkiran dan hinaan wilayah Jipang, orang-orang Jipang dianggap sebagai keturunan Pembangkang. Cerita tentang Blora adalah sejarah penceritaan sinisme Mataraman.

Pram, anak seorang guru. Bapaknya Mastoer guru sekaligus pemimpi. Ia bermimpi tentang sebuah bangsa yang merdeka, ia bermimpi tentang kanak-kanak yang memiliki bangsanya sendiri, Mastoer dipengaruhi pikiran-pikiran Indonesia Baru, ia pengikut Sukarno yang gigih, ia berani bertindak membentuk sejarah dengan melawan kemapanannya, ia keluar dari guru pemerintahan dan mendirikan sekolah Partikelir (swasta), sekolah dimana ia bisa menanamkan semangat kebangsaan, semangat memiliki dimana anak-anak ini dipersiapkan untuk “sebuah bangsa yang akan lahir”.

Ibunya Pram, walaupun tidak berpendidikan tinggi ia seorang pembaca yang tangguh, ia banyak referensi tentang bacaan-bacaan jawa seperti kidung dan kisah-kisah wayang , ia juga seorang keturunan bangsawan yang merekam banyak kesakitan-kesakitan atas masa lalu. ‘Kisah Nenek dari Ibunya inilah yang kemudian melahirkan cerita ‘Gadis Pantai’. Pram amat dekat dengan ibunya, tapi ia berjarak dengan ayahnya. Ia memberontak pada kekuasaan ayahnya, membenci sekaligus mengagumi. Sepertinya cerita hidup Mastoer adalah gambaran kehidupan Pram di masa datang, kehidupan yang getir. Ayah Pram, adalah seorang yang kalah, sekolahnya ditutup paksa pemerintahan Belanda, lalu ia stress dan menjadi penjudi tangguh, penjudi yang bisa dua hari tak bangun dari tempat duduknya, membanting-banting kartu, pikirannya adalah kebuntuan-kebuntuan, Pram menceritakan ini dibukunya “Bukan Pasar Malam”.

Ayah Pram keras dengan Pram, dan ini ia selalu kenang dengan pahit, tapi Pram dilimpahi kasih sayang ibunya, ia belajar menjahit, memasak dan pekerjaan-pekerjaan perempuan lainnya. Ia menjadi amat halus, ia memomong adik-adiknya. Yang paling diingat salah seorang adiknya Koesalah tentang kakaknya ini adalah ketika ia dibawa Pram ke tengah kota Blora dan melihat tentara Jepang masuk kota berbaris-baris, masih ingat bau khas tentara Jepang yang sangit, dan Koesalah mengingatnya ia diajak oleh Pram melihat penduduk merampas toko-toko milik orang Cina ditengah situasi kota yang kalut, saat itu Pram melengos dan tidak menyukai ‘rupanya perampasan akan menjadi sejarah paling pedih dari dirinya’. “Seluruh hidupku adalah sejarah Perampasan” ucap Pram suatu ketika setelah lepas dari Pulau Buru tahun 1978.

Pram, tak akur dengan ayahnya, ia nekat pergi ke Jakarta dan menumpang di rumah pamannya. Saat itu Jepang berkuasa, ia belajar steno. Pram amat pintar dan selalu tertinggi nilainya pada kursus-kursus penulisan. Tapi kemudian yang diangkat jadi kepala kantor wartawan adalah seorang yang dibawah nilainya, karena persoalan sederhana, Pram hanya lulusan SMP sementara orang itu lulusan SMA. Sejak saat itu Pram memandang sinis entitas pendidikan, baginya intelektualitas bukanlah sekolahan tapi intelektualitas adalah belajar terus menerus.

Pram hadir saat anak-anak didik Tan Malaka menyelenggarakan rapat Ikada untuk mengetest kemampuan Sukarno di depan rakyatnya. Pram berdiri di tengah massa rakyat, hatinya bergetar, ia bernyanyi, mimpinya tentang Indonesia Raya, ia tulis kenangannya ini di dalam surat-surat kepada anaknya yang kemudian dirangkum dalam sebuah buku tentang kamp kerja paksa ‘Pulau Buru’ yang berjudul “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu”. Pram menulis pada anaknya “Et, Kalau orang tidak pernah atau tidak mau ceritai kau tentang Revolusi Indonesia, biar aku yang mendongeng untukmu. Siapa tahu cerita itu bisa jadi imbangan bagi kondisi kesehatanmu yang kurang menguntungkan. Siapa tahu, ya siapa tahu! Tak sekurang-kurangnya orang yang mendapat kekuatan dari sebuah cerita.” Pram menceritakan tentang Indonesia di masa lalu, sebagai kekuatan pencerita.

Dari cerita-ceritanya Pram tumbuh menjadi saksi sebuah bangsa yang baru ada, sebuah bangsa yang bangkit dari lapangan kehinaan, Pram mencatat dengan teliti semua kejadian, di masa perang Revolusi 1945-1949 ia bertugas sebagai seorang ‘Letnan’ yang membawa berita, ia menuliskan semua keadaan dan Pram bekerja amat baik, ia seorang penyimpan arsip yang amat ulung, tanpa sengaja ia menjadikan dirinya sebagai ‘ensiklopedi berjalan Revolusi Indonesia’. Dari semua catatan-catatan ini Pram berpikir bagaimana keIndonesiaan dibentuk.

Kisah hidup Pram adalah kisah hidup yang unik, dia seorang orang yang menyenangkan sekaligus menyebalkan bagi sebagian orang. Ia pemarah tapi ia juga sangat baik hati di satu sisi. Ia manusiawi dari segala dimensinya. Dunia Pram total masuk ke dalam alam imajinasi, ia selalu limbung dengan dunia realitas yang tidak disenanginya. Ia melawan dengan keras apapun yang menjadi keyakinannya.

Pikirannya tentang masyarakat baru terlihat setelah ia pulang dari Cina, di Cina ia langsung terjun ke masyarakat, ia ikut menempa baja di rumah-rumah rakyat, ia melihat bahwa modal adalah sarang diatas sarang penindasan manusia. Indonesia harus dibebaskan dari keseluruhan ikatan-ikatan. Pertama-tama ia menyerang agenda imperialisme, di dalam Pram melawan basis-basis feodalisme, Pram mencerca karangan yang tak paham apa yang terjadi di masyarakat, ia menyalakan api aksara bahwa sastra harus langsung menjelaskan persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat dan berimajinasi atas jalan keluar persoalan-persoalan tersebut. Pram mengobarkan semangat realisme dalam dunia sastra Indonesia.

Dengan HB Jassin ia berkawan akrab, bahkan salah satu surat menyuratnya adalah tentang kemungkinan berdagang timah. Dengan Nugroho Notosusanto ia juga akrab, Nugroho hadir dalam pernikahan Pram dengan Muthmainah Thamrin, anak angkat Pahlawan Nasional Muhammad Husni Thamrin di tahun 1950-an. Tapi jaman yang berderak membawa Pram pada situasi yang panas : Lekra, Manikebu, tuduhan Pram membawa Pistol dan mengancam sastrawan ‘kanan’ serta opini-opini lain yang keras bagian dari situasi negara yang hamil tua. Pram, berdiri dari badai kekerasan masa lalu dan terperangkap dalam kekerasan yang diciptakan negara.

Rumahnya dirampas tentara, perpustakaannya diobrak-abrik, banyak data-data penting hilang. Gerakan Untung 1965 adalah gerakan yang melahirkan hal-hal aneh, dan kemudian orang ditangkapi berdasarkan tuduhan kosong belaka. Termasuk Pram, “Saya ditangkap karena saya tak tau apa-apa” kata Pram menerawang kenangannya tentang masa paling gelap hidupnya. Ia dibawa tentara dengan dalih ‘mengamankan’ dia dibawa ke Penjara sebagai ‘tahanan kota’ ia dipukuli berkali-kali, telinganya dipopor sampai separuh tuli. Pram selalu berteriak bila berbicara karena telinganya agak kurang mendengar, secara kemanusiaan ia disakiti.

Di dalam penjara ia disuruh berbaris, ia melihat adik-adiknya juga ditangkap. Enam tahun ia dipenjara kota, tahun 1972 ia diberangkatkan ke Pulau Buru, sebuah kamp kerja paksa paling mengerikan yang pernah diadakan Orde Baru.

Pulau Buru adalah puncak dari anomali sejarah Indonesia, negeri ini berdiri untuk mendapatkan kebebasan dan kemanusiaannya tapi Pulau Buru malah menjadi Rumah Besar pembantaian kemanusiaan, ribuan intelektual Indonesia ditahan di Pulau ini, dihinakan kemanusiaannya, dibuat seperti tak manusia.

Pram mendapatkan sedikit keistimewaan di Pulau ini, teman-temannya menggantikan tempat ia bekerja, ia berkesempatan menulis dan terus menulis. Jika sekarang banyak pengarang-pengarang cengeng dan sedikit-sedikit menangis soal nasib karangannya, hendaknya melihat kegigihan Pram di Pulau Buru. Disini ketangguhan penulis sejati dibentuk, Pram menulis dengan kertas semen dan pensil, ia harus kucing-kucingan dengan tentara yang menjaga, kalau ketahuan tulisannya bisa dirobek, ia mengingat sendiri semua data-data untuk karangannya. Ia menyusun sebuah cerita panjang, cerita tentang terbentuknya masyarakat Indonesia lewat gambaran jalinan kisah : Minke, Nyai Ontosoroh, dan Anneliese yang kemudian melahirkan banyak kisah.

Suatu hari Jenderal Sumitro selaku Pangkopkamtib datang ke Pulau Buru. Disana ia khusus bertemu dengan Pram, di tepi pantai Sumitro berkata pada Pram : Pak Pram, Hal yang paling indah dalam hidup adalah harapan, manusia boleh kehilangan segalanya, tapi jangan harapan, karena yang paling berharga dari diri manusia adalah harapannya” Pram diam saja.

“Pak Pram mau apa” kata Jenderal Mitro. “Saya mau mesin ketik” Lalu Sumitro mengangguk dan meminta anak buahnya mengirim mesin ketik serta ber rim-rim kertas. – kelak Kiriman ini tak pernah sampai.

Tapi saat kunjungan Sumitro ada wartawan Kompas yang pemberani, bernama Sindhunata diam-diam menyelundupkan kertas-kertas tulisan Pram ke Djakarta, dari sinilah epos tentang Pram dimulai.

Pram menyaksikan kekerasan terus menerus di Pulau Buru, ia melihat temannya ditendangi, disuruh tiarap, disuruh kumpul pagi-pagi, digebuki karena kesalahan sepele, bahkan dibunuh, ia menulis ini pada bukunya “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” sebuah soliloquy atas kesaksian anak manusia tentang kekejaman bangsanya. Dari kisah nyanyi sunyi seorang bisu membangkitkan perlawanan anak muda melawan Orde Baru, sebuah Orde yang pendiriannya berlawanan dengan hakikat Proklamasi 1945 : Sebuah teriakan Pembebasan dilawan dengan sepatu lars Penindasan.

Pram menantang jamannya yang keras. Presiden Suharto menulis surat pada Pram agar bersabar dalam masa tahanannya di Pulau Buru, Pram menjawab dengan singkat dan bahasa yang amat halus : “Saya diajarkan oleh orang tua saya untuk bersikap jujur”.

Tahun 1978 ia dipulangkan ke Djakarta bersama ratusan tawanan Pulau Buru lainnya. Ia menerima kenyataan rumahnya dirampas, ia hidup dalam kemiskinan dan ia tetap terus bertahan sebagai kepala rumah tangga dan bertanggung jawab pada kehidupan keluarganya.

Sekitar tahun 1981, bukunya diterbitkan tapi langsung dibredel, lalu penerbitnya putar otak akan untuk menerbitkan di hari jum’at sore, sehingga Pemerintah libur sabtu-minggu, dan ada waktu biasanya sampai selasa. Selama beberapa hari buku-buku Pram habis 5.000 eksemplar.

Wakil Presiden Adam Malik sendiri di depan Pram bilang “Wah, kalau Suharto saja sudah melarang, jangan kamu Pram, saya sendiri bisa ditembaknya”. Pram menatap Adam Malik getir, dalam hati ia berkata “Saya harus bertahan terhadap jaman yang tak benar ini”. Ia berjalan tanpa uang di tengah deru debu kota Jakarta, dalam usia tua-nya ia terus menerus bergelut melawan kerasnya hidup, tekanan dan tuduhan. Tapi ia tetap produktif, ia terus menulis : ‘baginya menulis adalah persoalan menyambung nyawa’.

Dan benar Pram bertahan terus menerus, tidak hanya pemerintah bahkan oleh pengarang-pengarang Manikebu yang di masa Sukarno merasa dikasari oleh Pram. Tapi Pram berkata dengan ringan “Dalam perdebatan-perdebatan sastra disaat itu, mereka tidak lecet sedikitpun, dan mereka bertanggung jawab terhadap pendirian Orde Baru yang militeristis lalu mereka menikmati di jaman itu”.

Di akhir hidupnya, Pram mendapatkan puncak Popularitas sebagai Pengarang terbesar di Indonesia pada jamannya. Ia adalah pengarang paling berbakat dan paling memiliki karakter penulisan yang amat dihapal oleh banyak orang Indonesia. Ia mampu membangun rumah tiga tingkat di Depok dan di depan Joko Pekik dia berkata “Rumah ini adalah bukti saya bisa melawan Orde Baru dengan kemenangan saya, saya berhasil menjadi manusia ketika saya dibunuh berkali-kali”.

Dan Pram mengajarkan pada kita “Bahwa ketersingkiran dalam hidup harus dilawan dan dimenangkan”

~Selamat Ulang Tahun Pram, Selamat Ulang Tahun Penulis yang menjadi obor besar atas kesadaran sejarah ‘Untuk Apa Negeri ini Harus Berdiri’.~


ADHN

November 25th
3:30 PM

Selamat hari guru!

Selamat hari guru!

November 16th
6:34 PM

Tua Muda

Muda
Apa yang kita sebut sebagai budaya anak muda bukanlah hal baru. Berabad-abad, orang muda telah memberikan sumbangan besar yang sangat berarti.

Perhatikanlah sumbangan dan prestasi ‘anak-anak’ ini:

Alfred Lord Tennyson, menulis karya klasiknya yang pertama pada usia 18 tahun.
Napoleon Bonaparte, menaklukkan Italia pada usia 25.
Lord Byron dan Raphael, keduanya penulis, meninggal pada usia 37.
Edgar Allan Poe, menyelesaikan tulisannya pada usia 39.
Isaac Newton, fisikawan luar biasa, menciptakan temuan terbesarnya, pada usia 25.
Wolfgang Amadeus Mozart, menulis sejumlah opera, sebelum berusia 15.
Dennis Kucinich, politisi, menjadi walikota kota besar termuda dalam sejarah Amerika, ketika usia 31, walikota Cleveland; masih kandidat presiden 2004 dan 2008 dari Republik.

Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda.

Jadi, tunggu apa lagi?



Tua
Inilah juga warga dunia lanjut usia yang menyumbang besar kepada bangsanya dan dunia:
Winston Churchill menjadi perdana menteri usia 81 tahun.
Clara Barton memimpin Palang Merah Internasional usia 83.
Robert Frost menulis puisi-puisi termasyhurnya pada usia hampir 80.
Oliver Wendell Holmes menjadi hakim agung pada usia 90.
Connie Mack memimpin tim pemenang baseball, usia 88.
Arturo Toscanini menjadi konduktor orkestra dunia kenamaan pada 87.
Arsitek Frank Lloyd Wright membuat karya terbaiknya pada usia 86.

Ketika Kanselir Konrad Adenauer (dari Jerman) mendekati usia 90, kondisinya mulai memburuk. Dokter pribadinya tidak dapat berbuat banyak membantunya, dan Adenauer tidak sabar dengannya.

“Saya bukan seorang ahli sihir, Tuan,” protes sang dokter, “saya tidak dapat membuat Anda muda kembali.”

Jawab Adenauer,
“Saya tidak memaksa engkau mengubah saya menjadi muda kembali. Semua yang saya kehendaki adalah terus menjadi semakin tua.”

:)

November 14th
1:41 AM

Tanggapan Tentang Album SBY

SBY ini adalah manusia yang diciptakan Tuhan untuk menjadi orang jenius. Ia tahu bahwa suaranya pas-pasan untuk menjadi penyanyi, ia tahu dirinya kurang imajinatif dalam menciptakan lirik dan lagu, ia tahu bahwa dia tidak memiliki fisik dengan pesona luar biasa seperti Elvis Presley atau Iwan Fals, dan ia tahu ia punya kemampuan terbatas untuk menjadi biduan.

Sadar dengan kelemahan-kelemahan atas tujuan cita-citanya menjadi pengarang lagu dan biduan, SBY merancang strategi luar biasa. Ia mengambil jalur cepat untuk menjadi terkenal sebagai biduan penuh pesona, biduan pujaan tua muda. Lalu ia mengambil strategi menjadi Presiden RI, bukan kerja sebagai Presiden ia lakukan tapi dengan Presiden-lah ia mewujudkan cita-cita sebenarnya : Menjadi Seorang Biduan…!

Dan kini lagu SBY dinyanyikan di even pesta olahraga Internasional, dikenalkan di forum APEC, bahkan mungkin menjadi lagu wajib di konferensi PBB. Dalam sejarah inilah lagu yang masuk ke dalam sistem formal, dibandingkan dengan strategi ini maka Bono daru U2-pun tak ada apa-apanya.

Dari SBY kita bisa belajar bagaimana mewujudkan cita-cita dengan cara apapun, kita jangan melihat segelas setengah kosong, tapi lihatlah segelas setengah penuh, bila dalam tujuan itu kita memiliki kelemahan-kelemahan dasar, maka mulailah dengan memperhatikan kekuatanmu yang lain dan jangan terpusat oleh kelemahanmu. Bekerjalah untuk cita-citamu…!

Dari sebuah desa di Pacitan
Berbekal gitar tua
Datang di ibukota
Dengan penuh harapan
Jadi seorang biduan, jadi seorang biduan

Oh Presiden biduan pujaan
Pujaan tua muda
Kau ditaburi cahaya
Dan sinar kekaguman
Dan riuhnya tepukan, dan riuhnya tepukan

Meskipun kau tersenyum
Namun orang pun tahu
Apa isi hatimu
Tatkala kau lagukan

Lagumu lagu sendu
Perjalanan hidupmu
Ditinggal kekasihmu

#Untuk SBY, dari seorang sahabat pena saya.

November 3rd
7:51 PM

Cerita Untukmu Di Penghujung Mimpi

Oleh Milson Panggalo

 

Ada yang berteriak tapi tak didengar, ada yang bertanya tapi tak mendapatkan jawaban, tetapi sesungguhnya bukan kesia-siaanlah bagian mereka

Hari ini 31 Desember 2029. Malam belum terlalu larut, ketika kuperhatikan jam di tanganku ternyata baru pukul 21.26, sementara kedua matamu tertutup rapat dan wajahmu tiada hentinya menyita perhatianku. Anak kecil yang lugu, gumamku. Tahukah kau nak apa yang kupikirkan saat ini? Ah lebih baik kau tak usah tahu karena suatu saat nanti kau pasti akan tahu kecemasanku, kecemasan pria tua tentang masa depanmu kelak. Tidurlah nak… akan kusampaikan pesan sang Dewa Ruci dalam mimpimu.

Petasan dan kembang api telah meluncur ke angkasa, menentang langit diujung penghabisannya di tahun ini. Kejadian yang hampir serupa 20 tahun silam. Tahukah kau nak, betapa indahnya masa mudaku dulu? Ah pasti kau tak tahu. Indahnya ketika pertamakali Tuhan mempertemukan aku dan ibumu di suatu senja di kota Bandung. Tapi kau, anakku, apa kiranya rencana Tuhan tentang dirimu? Haruskah kutanyakan sendiri padaNya? Mungkin inilah bagian yang sulit karena tak mudah memperoleh jawaban dari sana.

Belum kuceritakan padamu kecemasan dunia pada masaku dulu. Janganlah dulu kau terbangun karena petasan itu nak, masih ingin kusampaikan pesan leluhurmu. Para saudagar disana depresi karena kehilangan berjuta-juta dolar harta mereka, tapi siapakah yang peduli dengan jeritan makhluk kecil kurus yang tak lain adalah anak-anak kecil yang dikatakan orang gelandangan itu? Ah mestinya tak kutanyakan hal ini padamu. Sawah milik eyangmu kini entah dimana letaknya, telah digantikan mereka bulir-bulir padi dengan beton-beton rumah. Keadaan dulu sangat jauh berbeda dengan sekarang nak.

Mungkin dulu kami masih bisa tidur tanpa dimanjakan pendingin ruangan, tapi kini untuk menikmati sejuknya udara segar dibawah mataharipun kita tak bisa karena panas akibat efek rumah kaca.

Mungkin zaman telah berubah, memang telah berubah. Ingin rasanya ayahmu ini berbalik ke 20 tahun silam dan berteriak pada diri sendiri, kawan-kawan, keluarga, pemerintah, bahkan pada orang yang tak kukenal hanya untuk tak sembarang membuang sampah, untuk tak menggunakan AC berlebihan, tapi kini apalah dayaku nak.

 

Inilah surat dari ayahmu untuk dirinya di 20 tahun silam. Kisah hidupku, kelak akan kuceritakan padamu. Bukan untuk mendiktemu, lakukanlah apa yang dibisikkan nuranimu, tapi kisah pria tua ini akan selalu menyertaimu di zaman yang penuh jeritan ini nak…

—milson panggalo

7:49 PM

Andai Aku Seorang Guru

Andai Aku Seorang Guru

 (sekilas potret sistem pendidikan kita)
Oleh: zulkaida akbar

Andaikan aku seorang guru sejarah…
saat mengajar budaya kuno yunani, alih-alih menyuruh anak menghapal nama-nama dewa, aku akan mengajarkan bagaimana demokrasi lahir dan tumbuh di Athena..
Ketika masyarakatnya bisa menghargai pendapat orang lain.

Andaikan aku seorang guru ekonomi…
Alih-alih mengajarkan bahwa prinsip ekonomi adalah pencarian keuntungan setinggi-tingginya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya.
Aku akan mengajarkan bahwa belajar ekonomi berarti bagaimana agar kita bisa sejahtera bersama-sama.

Andaikan aku seorang guru bahasa…
Alih-alih menyuruh anak menghapal jenis-jenis sajak dan penataan rima,
aku akan menumbuhkan kecintaan berkarya dan apresiasi terhadap sastra agar anak didikku menghargai keindahan gagasan dan kemanusiaan yang tersirat dalam untaian kata serta cerita.

Andaikan aku seorang guru sosiologi…
Alih-alih menyuruh anak menghapal teori Auguste Comte dan teori-teori interaksi sosial,
aku akan menyuruh mereka terjun ke desa-desa, mengamati fenomena sosial, dan mengambil kesimpulan langsung akan nilai-nilai luhur yang dianut disana.

Andaikan aku seorang guru fisika…
Alih-alih menyuruh anak menghapal berbagai rumus,
aku akan menanamkan pemahaman bahwa belajar fisika berarti memahami keindahan semesta dalam keteraturan dan keseimbangan gerak benda serta melatih pengambilan hipotesa saat anak didikku mengamati fenomena.

Andaikan aku seorang guru matematika…
Alih-alih menyuruh anak menghapal berbagai rumus geometri,
aku akan menanamkan pengertian bahwa esensi belajar matematika adalah berlatih menggunakan logika yang terstruktur dalam memecahkan pelbagai permasalahan kehidupan.

Andaikan aku seorang guru biologi…
Alih-alih menyuruh anak menghapal jenis-jenis sel dan sistem organ,
aku akan menanamkan pemahaman bahwa dalam tubuh manusia terkandung sistem koordinasi yang kompleks namun semua mengarah pada sebuah visi bersama.. inilah karunia tuhan yang maha kuasa dan kita bisa belajar banyak darinya.

Andaikan aku seorang guru geografi…
Alih-alih menyuruh anak menghapal nama-nama tempat di belahan dunia,
aku akan menanamkan pemahaman bahwa manusia dengan berbagai keragamannya memiliki keunikan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal. agar mereka bangga karena nusantara kita pun kaya akan berbagai budaya luhur sejak dulu kala….

Andaikan aku seorang presiden Indonesia…
Aku akan membuat guru sejahtera dan memuliakan mereka karena merekalah Tiang Negara sesungguhnya…..

Tulisan ini adalah kritik tanpa sedikitpun mengurangi penghargaan dan kecintaan saya terhadap seluruh Guru yang telah berjuang dengan Ikhlas di Indonesia.

4:08 PM

Inilah Pamflet Reflektifku!

Aku, yang selalu curiga bahwa seluruh dunia memusuhiku, dari Washington sampai Paris, dari Sinkiang sampai Kashmir, dari Bangkok sampai Manila.
Bila sebagian besar memang benar memusuhiku, tidakkah waktunya aku berpikir apa yang salah mungkin malah adalah pada diriku?
Atau mungkinkah aku yang paranoid, melihat hantu-hantu dalam kegelapan yang sebetulnya tidak lebih dari cerminan hatiku sendiri yang curiga dengan semua?

Aku, yang selalu berkata bahwa semua berkonspirasi melawanku, tapi tidakkah aku juga begitu gemar menyebar hawa kebencian dan permusuhan terhadap yang berbeda dengan diriku?.
Apa yang aku rajin tuduhkan dan generalisasikan kepada mereka yang aku selalu lihat seakan semua berada di bawah bayangan lambang  magen David, mata Illuminati, Freemasonry, dll.
Semua hanyalah cerminan ketidakpercayaan diriku sendiri. Akulah yang terpaku dengan bayangan ketakutan dan kebencianku sendiri pada wajah mereka.

Aku, yang begitu bernafsu menutupi kesalahan dari golonganku sendiri dengan segala justifikasi dan alasan. Aku mencari-cari kesalahan dari orang lain sebagai pembelaan atas kesalahan saudara-saudaraku sendiri. Bila tidak aku temukan, aku ciptakan dan percayai sendiri segala teori konspirasi.

Tetapi kalau sekalipun orang lain salah, pantaskah itu aku jadikan pembelaan atas kesalahanku? Apakah bila tetanggaku benar pernah merampok, aku jadikan pembenaran bagiku untuk mencuri?
Karena orang lain membuat kejahatan besar, maka aku boleh membuat kejahatan kecil? Logika macam apa yang kuganakan ini! Ah, betapa kekanak-kanakannya aku. Bahkan mungkin, malah anak-anak bisa lebih bijak dari aku.

Akulah yang sebenarnya ingin menguasai, aku ingin tegakkan teokrasi dimanapun aku berada bagai akulah pemegang mandat Tuhan dan kebenaran satu-satunya.
Mungkin saja ada umat keyakinan yang lain juga bersikap demikian, tetapi dengan sikap dan caraku aku tidaklah lebih baik dari mereka.

Aku, yang selalu membanggakan kemegahan masa laluku, kerajaan-kerajaan besar dari kaumku. Aku mengklaim ilmu pengetahuan sudah ada pada kitab ku. Loh, kenapa cuma omong doang aku! Penguasaan ilmu pengetahuanku tidak terbukti untuk masa sekarang! Hartaku memang bisa dicuri, tahtaku bisa direbut orang, tapi ilmu dan akalku hanya akan hilang karena kemalasanku sendiri.

Aku, yang sebenarnya iri dengan kemajuan kaum yang bertuhan lain, dan kadang-kadang bahkan tidak bertuhan. Aku malu bahwa umat yang katanya terpilih seperti yang akun yakini, kok bisa tertinggal oleh peradaban lain?

Tapi aku lupa membangun umatku sendiri dan membuktikan bahwa kami sanggup memberi kontribusi positif pada umat manusia. Sebaliknya aku malah rajin mengamuk dengan label front pembela ini itu, dengan bom bunuh diri menghancurkan gedung bahkan rumah ibadah orang lain. Membuat nama agamaku dan tuhanku menjadi bahan tertawaan, dan ketakutan diantara bangsa-bangsa.

Aku, yang selalu bilang umatku dimurtadkan dengan hadiah dan imbalan, ah lantas kenapa aku tidak balas dengan imbalan yang lebih besar?. Bagaimana aku bisa memenangkan hati meeka bila kesejahteraan umatku di dunia saja aku abaikan.
Bagaimana aku bisa buat merekai percaya bahwa tuhanku akan selamatkan mereka di akhirat, kalau nasib mereka di dunia saja tak aku perhatikan. Bahkan kumanipulasi hak-hak mereka.

Aku, yang selalu berkeras bilang Tuhanku pengasih dan penyayang, tapi kelakuanku yang berlagak seakan bagai wakil Dia, tak mencerminkan hal itu.
Sungguh, mereka jadi ragu pada ajaran Tuhanku justeru karena melihat sikapku. Bagaimana mereka bisa percaya hulunya suci dan bersih, bila aliran ke hilir begitu gelap dan kotor.

Bila Aku adalah minoritas, Aku bersikap seakan seperti domba yang teraniaya. Merasa selalu didiskriminasi dan sibuk menuntut diberi hak yang sama. Sebaliknya
bila Aku sudah sama jumlah, Aku berlaku seperti musang yang licik dan mencari celah bagaimana supaya fahamku diberi kesempatan yang lebih besar. Dan bila Aku
sudah mayoritas, Aku menjadi singa yang ganas, merobek-robek hak kaum lain dan menginjak-injak kebebasan mereka.

Inilah pamflet reflektifku!

Mulai kini akhirnya aku mengacu pada satu titik simpulan, bahwa aku akan memandang kemanusiaan secara universal dan tanpa sekat golongan!

October 29th
3:28 PM

Tujuh Dosa Sosial yang dikenalkan Mohandas Karamchand Gandhi

Tujuh Dosa Sosial yang dikenalkan Mohandas Karamchand Gandhi, dalam perspektif kekinian:

1.Kekayaan tanpa kerja.

Korupsi seperti menyelundupkan gula, rekening gendut Polisi, menerima dana talangan Bank Century, naikkin uang tiket final bola setelah antusias masyarakat tinggi untuk menonton, menggelapkan pajak dan segala bentuk tindak kejahatan yang tidak memerlukan kejujuran dan mempermiskin rakyat banyak.

2.Kenikmatan tanpa nurani.

Membakar rumah ibadah orang lain sehingga merasa dirinya benar dan menikmatinya, melarang orang beribadah, dan segala bentuk kesenangan yang mengorbankan perasaan orang lain.

3.Ilmu tanpa kemanusiaan.

Mempelajari disiplin akademis lalu setelah menjadi dosen ia jadi banci tampil di TV, syukur-syukur bisa menjadi pejabat negara dan salah satu pengurus partai politik.

4.Pengetahuan tanpa karakter.

Mengetahui sesuatu tetapi buta pada integritas pribadi dan merusak tatanan moral seperti membobol Bank, membuat trik-trik kartu ATM Palsu, hacking barang-barang yang dijual di Internet, menjadi Pemimpin agama karena pengetahuannya tapi menjual pengetahuan agamanya untuk uang dan kekuasaan. Mempelajari hukum dan detil-detilnya untuk menipu rasa keadilan.

5.Politik tanpa prinsip.

Masuk ke dalam partai politik hanya demi jabatan, ketika partai politik tidak membutuhkan dia kemudian dia pindah ke partai lain, masuk ke dalam perjuangan ideologi tapi berujung hanya jadi makelar kekuasaan, membuat jaringan kekuatan di masyarakat tapi digunakan untuk memperkaya diri bukan memperjuangkan ide-idenya dimana masyarakat tumbuh sesuai idealisme yang ia impikan.

6.Bisnis tanpa moralitas.

Menggelapkan pajak, iklan-iklan di TV yang melecehkan, menghancurkan saingan, menggunakan pejabat negara sebagai tangan untuk menggodam pesaing dan menyogok pejabat negara demi keuntungan bisnis.

7.Ibadah tanpa pengorbanan.

Beribadah hanya menghitung untung rugi, padahal jalan menuju Tuhan adalah keikhlasan dan kunci dari keikhlasan adalah tidak memikirkan apapun kecuali Tuhan, dan jalan menuju Tuhan adalah jalan pengorbanan bagi hati nurani untuk menjadi bersih.