Pramoedya…..
Saat itu saya sedang nonton TVRI, berita malam jam 7. Dan saya lihat seorang Jaksa Agung mengacung-acungkan buku “Gadis Pantai” diucapkan “Berbau-bau PKI” dan seperti kebanyakan orang yang hidup di masa Orde Baru PKI adalah “Hantu yang tak terdefinisi, menakutkan tapi tak jelas rupanya”.
Rupa buku Gadis Pantai itu kurang menarik, seingat saya hanya gambar sketsa seorang gadis yang matanya menatap lautan luas, tapi di mata saya waktu kecil itu ada ‘Perasaan gagah’ kalau punya buku seperti itu. Sejak itu ada dua hal yang mengandung keberanian di mata saya “Pramoedya dan PKI”. Yang paling saya suka dalam setiap hal adalah ‘orang-orang yang tersingkirkan, mereka yang kalah atau tim sepakbola yang underdog lalu mencuat menjadi pemenang’ saya senang dengan mereka yang berani melawan dari ketersingkiran. PKI dimata saya saat itu bukanlah representatif dari sebuah ideologi yang tak saya mengerti, tapi satu hal ekspresi di ruang pikiran saya PKI adalah keberanian, PKI adalah pemberontakan, PKI adalah koreksi terhadap hal-hal mapan dan dari semua itu ‘PKI adalah ketersingkiran’.
Pram, adalah keberanian yang lain. Dan memang di kemudian waktu saya tau bahwa Pram bukanlah PKI, dia Sukarnois, dia orang yang amat paham sejarah, bahkan bisa dikatakan Pram adalah sumber dari segala sumber kesadaran sejarah bangsa ini, ia adalah pengingat bahwa masa lampau memiliki pesan, ia Mpu Tantular pada jaman ketika roket sudah diciptakan. Lebih jauh lagi, hidup Pram adalah sebuah epos besar kemanusiaan, dimana seorang yang sudah tertindas disituasi yang membunuhnya ia bisa bangkit dan menjadi raksasa atas kegelisahan bangsanya, ia tumbuh dari depa demi depa keberanian. Pram adalah esensi keberanian itu sendiri.
Seperti kata Salman Rushdie di dalam novelnya Midnight Children, “Seorang anak adalah gambaran dari sebuah bangsa yang tumbuh, dan sebuah bangsa adalah cerita di kepala kanak-kanak” Pram adalah keterwakilan dari luka sejarah masa lampau bangsa Jawa, juga keterwakilan dari keinginan sebuah bangsa yang ingin tumbuh dan muncul di dunia, sebuah KeIndonesiaan, yang dibangun dengan seribu kegagapan, luka, kesepian, air mata, darah dan kegilaan-kegilaannya. Pram lahir dari keluarga semi bangsawan di sebuah wilayah yang ‘kalah’, sebuah wilayah yang disingkirkan dan diingat dengan sejarah dendam yang sinis, ‘Blora’. Wilayah Blora adalah wilayah inti Jipang Panolan, tempat berkuasanya Pangeran Ario Penangsang, yang sepanjang sejarahnya adalah penuntut tahta Demak, dan mendendam pada Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijoyo, kematian Aryo Penangsang adalah titik nol kilometer dari dibangunnya Kerajaan Mataram, sebuah kerajaan yang sampai sekarang peradabannya sangat berpengaruh pada ruang keIndonesiaan kita. Pendirian Mataram disertai dengan ketersingkiran dan hinaan wilayah Jipang, orang-orang Jipang dianggap sebagai keturunan Pembangkang. Cerita tentang Blora adalah sejarah penceritaan sinisme Mataraman.
Pram, anak seorang guru. Bapaknya Mastoer guru sekaligus pemimpi. Ia bermimpi tentang sebuah bangsa yang merdeka, ia bermimpi tentang kanak-kanak yang memiliki bangsanya sendiri, Mastoer dipengaruhi pikiran-pikiran Indonesia Baru, ia pengikut Sukarno yang gigih, ia berani bertindak membentuk sejarah dengan melawan kemapanannya, ia keluar dari guru pemerintahan dan mendirikan sekolah Partikelir (swasta), sekolah dimana ia bisa menanamkan semangat kebangsaan, semangat memiliki dimana anak-anak ini dipersiapkan untuk “sebuah bangsa yang akan lahir”.
Ibunya Pram, walaupun tidak berpendidikan tinggi ia seorang pembaca yang tangguh, ia banyak referensi tentang bacaan-bacaan jawa seperti kidung dan kisah-kisah wayang , ia juga seorang keturunan bangsawan yang merekam banyak kesakitan-kesakitan atas masa lalu. ‘Kisah Nenek dari Ibunya inilah yang kemudian melahirkan cerita ‘Gadis Pantai’. Pram amat dekat dengan ibunya, tapi ia berjarak dengan ayahnya. Ia memberontak pada kekuasaan ayahnya, membenci sekaligus mengagumi. Sepertinya cerita hidup Mastoer adalah gambaran kehidupan Pram di masa datang, kehidupan yang getir. Ayah Pram, adalah seorang yang kalah, sekolahnya ditutup paksa pemerintahan Belanda, lalu ia stress dan menjadi penjudi tangguh, penjudi yang bisa dua hari tak bangun dari tempat duduknya, membanting-banting kartu, pikirannya adalah kebuntuan-kebuntuan, Pram menceritakan ini dibukunya “Bukan Pasar Malam”.
Ayah Pram keras dengan Pram, dan ini ia selalu kenang dengan pahit, tapi Pram dilimpahi kasih sayang ibunya, ia belajar menjahit, memasak dan pekerjaan-pekerjaan perempuan lainnya. Ia menjadi amat halus, ia memomong adik-adiknya. Yang paling diingat salah seorang adiknya Koesalah tentang kakaknya ini adalah ketika ia dibawa Pram ke tengah kota Blora dan melihat tentara Jepang masuk kota berbaris-baris, masih ingat bau khas tentara Jepang yang sangit, dan Koesalah mengingatnya ia diajak oleh Pram melihat penduduk merampas toko-toko milik orang Cina ditengah situasi kota yang kalut, saat itu Pram melengos dan tidak menyukai ‘rupanya perampasan akan menjadi sejarah paling pedih dari dirinya’. “Seluruh hidupku adalah sejarah Perampasan” ucap Pram suatu ketika setelah lepas dari Pulau Buru tahun 1978.
Pram, tak akur dengan ayahnya, ia nekat pergi ke Jakarta dan menumpang di rumah pamannya. Saat itu Jepang berkuasa, ia belajar steno. Pram amat pintar dan selalu tertinggi nilainya pada kursus-kursus penulisan. Tapi kemudian yang diangkat jadi kepala kantor wartawan adalah seorang yang dibawah nilainya, karena persoalan sederhana, Pram hanya lulusan SMP sementara orang itu lulusan SMA. Sejak saat itu Pram memandang sinis entitas pendidikan, baginya intelektualitas bukanlah sekolahan tapi intelektualitas adalah belajar terus menerus.
Pram hadir saat anak-anak didik Tan Malaka menyelenggarakan rapat Ikada untuk mengetest kemampuan Sukarno di depan rakyatnya. Pram berdiri di tengah massa rakyat, hatinya bergetar, ia bernyanyi, mimpinya tentang Indonesia Raya, ia tulis kenangannya ini di dalam surat-surat kepada anaknya yang kemudian dirangkum dalam sebuah buku tentang kamp kerja paksa ‘Pulau Buru’ yang berjudul “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu”. Pram menulis pada anaknya “Et, Kalau orang tidak pernah atau tidak mau ceritai kau tentang Revolusi Indonesia, biar aku yang mendongeng untukmu. Siapa tahu cerita itu bisa jadi imbangan bagi kondisi kesehatanmu yang kurang menguntungkan. Siapa tahu, ya siapa tahu! Tak sekurang-kurangnya orang yang mendapat kekuatan dari sebuah cerita.” Pram menceritakan tentang Indonesia di masa lalu, sebagai kekuatan pencerita.
Dari cerita-ceritanya Pram tumbuh menjadi saksi sebuah bangsa yang baru ada, sebuah bangsa yang bangkit dari lapangan kehinaan, Pram mencatat dengan teliti semua kejadian, di masa perang Revolusi 1945-1949 ia bertugas sebagai seorang ‘Letnan’ yang membawa berita, ia menuliskan semua keadaan dan Pram bekerja amat baik, ia seorang penyimpan arsip yang amat ulung, tanpa sengaja ia menjadikan dirinya sebagai ‘ensiklopedi berjalan Revolusi Indonesia’. Dari semua catatan-catatan ini Pram berpikir bagaimana keIndonesiaan dibentuk.
Kisah hidup Pram adalah kisah hidup yang unik, dia seorang orang yang menyenangkan sekaligus menyebalkan bagi sebagian orang. Ia pemarah tapi ia juga sangat baik hati di satu sisi. Ia manusiawi dari segala dimensinya. Dunia Pram total masuk ke dalam alam imajinasi, ia selalu limbung dengan dunia realitas yang tidak disenanginya. Ia melawan dengan keras apapun yang menjadi keyakinannya.
Pikirannya tentang masyarakat baru terlihat setelah ia pulang dari Cina, di Cina ia langsung terjun ke masyarakat, ia ikut menempa baja di rumah-rumah rakyat, ia melihat bahwa modal adalah sarang diatas sarang penindasan manusia. Indonesia harus dibebaskan dari keseluruhan ikatan-ikatan. Pertama-tama ia menyerang agenda imperialisme, di dalam Pram melawan basis-basis feodalisme, Pram mencerca karangan yang tak paham apa yang terjadi di masyarakat, ia menyalakan api aksara bahwa sastra harus langsung menjelaskan persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat dan berimajinasi atas jalan keluar persoalan-persoalan tersebut. Pram mengobarkan semangat realisme dalam dunia sastra Indonesia.
Dengan HB Jassin ia berkawan akrab, bahkan salah satu surat menyuratnya adalah tentang kemungkinan berdagang timah. Dengan Nugroho Notosusanto ia juga akrab, Nugroho hadir dalam pernikahan Pram dengan Muthmainah Thamrin, anak angkat Pahlawan Nasional Muhammad Husni Thamrin di tahun 1950-an. Tapi jaman yang berderak membawa Pram pada situasi yang panas : Lekra, Manikebu, tuduhan Pram membawa Pistol dan mengancam sastrawan ‘kanan’ serta opini-opini lain yang keras bagian dari situasi negara yang hamil tua. Pram, berdiri dari badai kekerasan masa lalu dan terperangkap dalam kekerasan yang diciptakan negara.
Rumahnya dirampas tentara, perpustakaannya diobrak-abrik, banyak data-data penting hilang. Gerakan Untung 1965 adalah gerakan yang melahirkan hal-hal aneh, dan kemudian orang ditangkapi berdasarkan tuduhan kosong belaka. Termasuk Pram, “Saya ditangkap karena saya tak tau apa-apa” kata Pram menerawang kenangannya tentang masa paling gelap hidupnya. Ia dibawa tentara dengan dalih ‘mengamankan’ dia dibawa ke Penjara sebagai ‘tahanan kota’ ia dipukuli berkali-kali, telinganya dipopor sampai separuh tuli. Pram selalu berteriak bila berbicara karena telinganya agak kurang mendengar, secara kemanusiaan ia disakiti.
Di dalam penjara ia disuruh berbaris, ia melihat adik-adiknya juga ditangkap. Enam tahun ia dipenjara kota, tahun 1972 ia diberangkatkan ke Pulau Buru, sebuah kamp kerja paksa paling mengerikan yang pernah diadakan Orde Baru.
Pulau Buru adalah puncak dari anomali sejarah Indonesia, negeri ini berdiri untuk mendapatkan kebebasan dan kemanusiaannya tapi Pulau Buru malah menjadi Rumah Besar pembantaian kemanusiaan, ribuan intelektual Indonesia ditahan di Pulau ini, dihinakan kemanusiaannya, dibuat seperti tak manusia.
Pram mendapatkan sedikit keistimewaan di Pulau ini, teman-temannya menggantikan tempat ia bekerja, ia berkesempatan menulis dan terus menulis. Jika sekarang banyak pengarang-pengarang cengeng dan sedikit-sedikit menangis soal nasib karangannya, hendaknya melihat kegigihan Pram di Pulau Buru. Disini ketangguhan penulis sejati dibentuk, Pram menulis dengan kertas semen dan pensil, ia harus kucing-kucingan dengan tentara yang menjaga, kalau ketahuan tulisannya bisa dirobek, ia mengingat sendiri semua data-data untuk karangannya. Ia menyusun sebuah cerita panjang, cerita tentang terbentuknya masyarakat Indonesia lewat gambaran jalinan kisah : Minke, Nyai Ontosoroh, dan Anneliese yang kemudian melahirkan banyak kisah.
Suatu hari Jenderal Sumitro selaku Pangkopkamtib datang ke Pulau Buru. Disana ia khusus bertemu dengan Pram, di tepi pantai Sumitro berkata pada Pram : Pak Pram, Hal yang paling indah dalam hidup adalah harapan, manusia boleh kehilangan segalanya, tapi jangan harapan, karena yang paling berharga dari diri manusia adalah harapannya” Pram diam saja.
“Pak Pram mau apa” kata Jenderal Mitro. “Saya mau mesin ketik” Lalu Sumitro mengangguk dan meminta anak buahnya mengirim mesin ketik serta ber rim-rim kertas. – kelak Kiriman ini tak pernah sampai.
Tapi saat kunjungan Sumitro ada wartawan Kompas yang pemberani, bernama Sindhunata diam-diam menyelundupkan kertas-kertas tulisan Pram ke Djakarta, dari sinilah epos tentang Pram dimulai.
Pram menyaksikan kekerasan terus menerus di Pulau Buru, ia melihat temannya ditendangi, disuruh tiarap, disuruh kumpul pagi-pagi, digebuki karena kesalahan sepele, bahkan dibunuh, ia menulis ini pada bukunya “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” sebuah soliloquy atas kesaksian anak manusia tentang kekejaman bangsanya. Dari kisah nyanyi sunyi seorang bisu membangkitkan perlawanan anak muda melawan Orde Baru, sebuah Orde yang pendiriannya berlawanan dengan hakikat Proklamasi 1945 : Sebuah teriakan Pembebasan dilawan dengan sepatu lars Penindasan.
Pram menantang jamannya yang keras. Presiden Suharto menulis surat pada Pram agar bersabar dalam masa tahanannya di Pulau Buru, Pram menjawab dengan singkat dan bahasa yang amat halus : “Saya diajarkan oleh orang tua saya untuk bersikap jujur”.
Tahun 1978 ia dipulangkan ke Djakarta bersama ratusan tawanan Pulau Buru lainnya. Ia menerima kenyataan rumahnya dirampas, ia hidup dalam kemiskinan dan ia tetap terus bertahan sebagai kepala rumah tangga dan bertanggung jawab pada kehidupan keluarganya.
Sekitar tahun 1981, bukunya diterbitkan tapi langsung dibredel, lalu penerbitnya putar otak akan untuk menerbitkan di hari jum’at sore, sehingga Pemerintah libur sabtu-minggu, dan ada waktu biasanya sampai selasa. Selama beberapa hari buku-buku Pram habis 5.000 eksemplar.
Wakil Presiden Adam Malik sendiri di depan Pram bilang “Wah, kalau Suharto saja sudah melarang, jangan kamu Pram, saya sendiri bisa ditembaknya”. Pram menatap Adam Malik getir, dalam hati ia berkata “Saya harus bertahan terhadap jaman yang tak benar ini”. Ia berjalan tanpa uang di tengah deru debu kota Jakarta, dalam usia tua-nya ia terus menerus bergelut melawan kerasnya hidup, tekanan dan tuduhan. Tapi ia tetap produktif, ia terus menulis : ‘baginya menulis adalah persoalan menyambung nyawa’.
Dan benar Pram bertahan terus menerus, tidak hanya pemerintah bahkan oleh pengarang-pengarang Manikebu yang di masa Sukarno merasa dikasari oleh Pram. Tapi Pram berkata dengan ringan “Dalam perdebatan-perdebatan sastra disaat itu, mereka tidak lecet sedikitpun, dan mereka bertanggung jawab terhadap pendirian Orde Baru yang militeristis lalu mereka menikmati di jaman itu”.
Di akhir hidupnya, Pram mendapatkan puncak Popularitas sebagai Pengarang terbesar di Indonesia pada jamannya. Ia adalah pengarang paling berbakat dan paling memiliki karakter penulisan yang amat dihapal oleh banyak orang Indonesia. Ia mampu membangun rumah tiga tingkat di Depok dan di depan Joko Pekik dia berkata “Rumah ini adalah bukti saya bisa melawan Orde Baru dengan kemenangan saya, saya berhasil menjadi manusia ketika saya dibunuh berkali-kali”.
Dan Pram mengajarkan pada kita “Bahwa ketersingkiran dalam hidup harus dilawan dan dimenangkan”
~Selamat Ulang Tahun Pram, Selamat Ulang Tahun Penulis yang menjadi obor besar atas kesadaran sejarah ‘Untuk Apa Negeri ini Harus Berdiri’.~
ADHN